Suka takjub sama kehebohan yang muncul kalau ‘pemimpin’ kita mau lewat, mau turun ke jalan. Eksklusif pisyan. Sekedar membuka perpektif lain, bahwa pemimpin tak harus melangit, ada kala-nya dia pun harus membumi.
Ahmadinejad. Pasti udah sering denger ya :) Walaupun suka ngga ngeh, beliau tuh siapa, kontribusi-nya apa. Jadi coba kita mengenal sosok beliau lebih dekat ya. Beliau punya ciri khas yang cukup men-trigger saya nulis blog malem ini :)

Mahmoud Ahmadinejad, beliau merupakan Presiden Iran yang keenam. Lahir pada tanggal 28 Oktober 1956 di sebuah desa pertanian, Aradan, sekitar 100 km dari Teheran.
Jejak karirnya dimulai dari :
- Gelar doktor dalam bidang teknik dan perencanaan lalu lintas dan transportasi Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST)
- Korps Pengawal Revolusi Islam (1986)
- Gubernur provinsi Ardabil (1993-1997)
- Walikota Teheran (3 Mei 2003 - 28 Juni 2005)
- Presiden Iran
Suatu ketika, Presiden Mohammad Khatami (Presiden Iran sebelum Ahmadinejad) akan melakukan kunjungan ke Universitas Teheran, Khatami terjebak macet. Dan Ahmadinejad yang ketika itu masih menjadi Walikota Teheran; berkata pada Khatami: “Bersyukurlah karena presiden kita telah merasakan kehidupan rakyatnya yang sesungguhnya”.
Dalem ya :)
Sikap dan tindakan Ahmadinejad yang ‘down to earth’ terbawa hingga dia menjabat menjadi Presiden Iran.
Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid-masjid di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.
Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu-satunya uang yang masuk adalah uang gaji bulanannya sebagai dosen di sebuah universitas yang hanya senilai US$ 250.

Selama menjabat sebagai Presiden Iran, Ia tinggal di rumahnya sendiri. Ia tidak mengambil gajinya sebagai Presiden, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

Sang presiden selalu membawa tas setiap hari yang berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira,ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.
Ketika sang Presiden mendengar panggilan shalat, disitu pula beliau mendirikan shalat, walaupun hanya ditepi jalan dan beralaskan kain. Allahu akbar!

Kesederhanaan beliau, mengingatkan kita dengan kepemimpinan Rasulullah saw.
Anas bin Malik pernah melihat Rasulullah tidur dan berbaring miring di atas tikar pandan kecil yang bersulam, dan di bawah kepalanya bantal dari kulit berisikan rumput kering.
Umar bin Khaththab tak sanggup menahan tangisnya ketika melihat bentuk sulaman tikar yang membekas di tubuh bagian samping Rasulullah saw.
Rasulullah saw bertanya, “Mengapa engkau menangis, Umar?
Umar menjawab, “Demi Allah, saya tidak menangis kecuali tahu bahwa engkau lebih Allah muliakan daripada Kisra dan Qaishr. Mereka hidup dalam kesenangan, sementara engkau, Rasulullah saw, di tempat yang saya lihat ?”
Rasulullah saw bersabda, “Apakah engkau tidak rela dunia menjadi milik mereka dan akhirat untuk kita?”
Umar menjawab, “Ya, aku rela.”
Rasulullah saw bersabda, “Begitulah yang benar”
Dunia untuk mereka dan akhirat untuk kita. Itu esensi yang terus digenggam oleh pemimpin yang sadar penuh atas amanah mereka. Semoga Allah terus jaga dan muliakan mereka. Para pemimpin yang terus melayani ummat, bukan terus-menerus merengek minta dilayani dan dijunjung tinggi. Amiin.
Wallahu’alam.
Source :
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/03/biografi-mahmoud-ahmadinejad.html
http://top10.web.id/tokoh/10-potret-kesederhanaan-presiden-mahmoud-ahmadinejad