"Kita dikuatkan agar dibutuhkan, lalu dilemahkan agar membutuhkan."

— (via mfsyaa)

(Source: satunovemberr, via enggarwardhani)

Titipan - WS. Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan

bahwa mobiku hanya titipan-Nya

bahwa rumahku hanya titipan-Nya

bahwa hartaku hanya titipan-Nya

bahwa putraku hanya titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan

Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

"

Saya diajarkan untuk tidak meletakanan kamu di hati saya, tetapi di atas sajadah saja. Agar kelak apa pun yang Allah tetapkan atas diri kita, saya bisa ikhlas dan redha.

Allah sebaik-baik pembuat rencana.

"

— (via myclip)

(via dentykusuma)

Talk More, Do More !

ilvan:

     Barangkali, orang Indonesia adalah manusia paling humble di muka bumi ini. Setiap kita berhasil melakukan sesuatu, kita dengan legowo mengatakan “ ah , endak pak..saya hanya bantu-bantu dikit aja kok untuk project ini” padahal kenyataanya ia seorang diri yang mengerjakan. Mungkin hal itu sudah menjadi budaya di negeri ini,budaya untuk ngga enakan, uwuh pakewuh dan berusaha mementingkan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi seperti yang guru PPKN kita ajakarkan waktu SD dulu.

    Well, ngga ada yang salah dengan hal itu. Tentunya  budaya itu punya kelebihan dan kekurangan. Di artikel ini saya akan cerita real stories  tentang penerapan budaya ini di kancah karir global. Alkisah di kantor saya, Indonesia adalah salah satu negara yang paling brilian, dengan tingkat sales yang cukup tinggi dan ditunjang oleh talenta-talenta yang pintar dan berbakat. Suatu hari, beberapa karyawan yang memiliki performa dan potensi yang bagus direkomendasikan untuk bekerja di kantor global, seperti di London atau Singapore. Karyawan-karyawan ini mempunyai performance yang terbilang mumpuni dan konsisten selama beberapa tahun terakhir, mereka juga dinilai mempunyai potensi untuk bisa berkembang lebih baik lagi di masa yang akan datang, oleh karena itu perusahaan percaya untuk mengembangkan potensi dan karir mereka untuk berkarir secara global. Sebelum menempati posisi baru tersebut, karyawan-karyawan ini diharuskan untuk interview dengan calon bos barunya, dan tidak hanya mereka yang di innterview tapi juga ada karyawan-karyawan dari negara lain seperti India dan Singapore.

Read More

Indeed!

jagungrebus:

He gets nothing,he won’t be richer,he won’t be on tv,
still anonymous,and not a bit more famous.

What he does receives are emotions,he witnesess of happiness.Reaches a deeper understanding,feels the love,receives that money can’t buy. A world made more beautiful.

And in you life?

What is that you desire most?

Jabatan? Popularitas? Uang? Pengakuan bahwa kita sudah melakukan sesuatu untuk dunia? Ah, mari menampar muka sendiri

Dan kebaikan akan kembali lagi pada si pembuat kebaikan.

(Source: herricahyadi, via thebeautyofislam)

nayasa:

too smart :’O

(Source: onekindesign.com)

banumuhammad:

Ilmu psikologi sebenarnya ingin membahas manusia secara utuh, namun sayangnya tidak. Batasan yang dibuat pun karena mereka berusaha untuk jujur terhadap keterbatasan diri mereka sendiri, tetapi tetap mengingkari Tuhan dan kitab suci. Sebaliknya, dalam Psikologi Islam, ilmu tidak dibatasi karena kita punya Al-qur’an sebagai andalan, sumber inspirasi, dan tempat untuk mengkonfirmasi.

Manusia punya sifat-sifat dasar yang sudah ditentukan Allah. Hakekat manusia adalah berasal dari Allah, dan akan kembali pada Allah juga. Ini yang tidak diperhatikan oleh Psikologi Barat. Wajar jika banyak penyakit psikologis muncul. Penyakit psikologi paling mendasar adalah jika mereka mengingkari hakekat manusia. Pengingkaran itu berdampak pada keadaan manusia yang menjadi cemas, depresi, stress, kejam, dan linglung. Sebaliknya, manusia yang sehat adalah yang meyakini dan menghayati kenyataan ini sehingga hatinya tenang, tabah, bahagia, sabar, dan syukur. Itu merupakan rumus yang sederhana.

Tapi pertanyaannya adalah mengapa kalau hanya begitu rumusnya, kok banyak orang bermasalah ?

Di sinilah pentingnya psikologi Islam. Ibaratnya seperti pernyataan “langit ditinggikan tanpa tiang”. Bagi orang awam itu sangat sederhana. Memang langit tidak ada tiangnya. Namun dengan ilmu fisika, ternyata pernyataan sederhana itu maknanya luar biasa, dan bagi orang yang beriman ilmu fisika yang mengungkap  rahasia langit itu akan menggetarkan hatinya dan membuatnya menangis tersedu karena dapat mengenal Allah lebih dekat. Demikian pula dengan psikologi Islam. Psikologi Islam adalah ilmu yang semestinya dapat membuat hati kita bergetar ketika mengingat Allah karena hidup kita ini semuanya adalah dalam rangka kembali pada Allah.

Hal yang tidak kalah penting juga adalah ilmu, agar kita dapat memahami Islam itu sendiri. Al-qur’an itu wahyu yaitu petunjuk atau referensi yang disediakan Allah untuk yang mau menuntut ilmu, dan Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu.

Tanya jawab:

  1. 1.     Mengenal diri, mengenal Allah

Pertanyaan: Ada perkataan ulama: man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa rabbahu (Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya). Proses mengenal diri yang menjadi pintu mengenal Tuhan atau sebaliknya ? atau paralel ?

Jawaban: Tuhan itu sudah kita kenal di hati kita dalam keimanan kita, tapi kehidupan kita di dunia ini cenderung melenakan sehingga kita lupa.

Untuk memperkuat iman kita  di hati, kita perlu ikhtiar dengan ilmu. Ilmu yang benar akan bertemu dengan keimanan di hati. Itulah sebabnya orang yang ilmunya benar hatinya tenang. Kalau ada ilmu tapi justru membuat hati gelisah, berarti ilmunya kurang benar.

Menurut Imam Al Ghozali, mengenal diri jadi pintu untuk mengenal Allah. “Diri” dalam hal ini maksudnya jiwa, bukan sekedar mengenal fisiknya saja. Bukan sekedar kenal kepribadian saya seperti ini, kalau lapar makan, kalau sakit istirahat. Lebih dari itu: mengenali jiwa dalam diri, termasuk menjawab bagaimana diri diciptakan, dari mana asal kita, untuk apa hidup di dunia ini, ke mana kita akan pergi. Itu merupakan pertanyaan mendasar dalam hidup. Kalau kenal jiwa, pasti kenal Allah karena pada dasarnya juga jiwa manusia memang kenal Allah, bahkan sebelum manusia lahir. Itulah hati yang sudah kenal Allah. Orang awam sebut itu hati nurani. Sayangnya, Psikologi Barat tidak paham apa itu hati karena menurut mereka semua itu ada di otak. Termasuk istilah God Spot itu mereka bilang ada di otak.

Masih menurut Imam Al Ghozali. Hati versi fisik itu berupa jantung, namun hati yang sejati itu sifatnya ghoib, dan itulah yang mengendalikan otak, merindukan kebenaran, dan Allah. Hati itu yang menarik manusia pada taqwa. Sayangnya hati yang ghoib itu bisa kotor karena dosa, sehingga cahaya kebenaran tertutupi.

Imam Al Ghozali mengibaratkan hati itu cahaya di dalam cermin. Dosa seperti noktah hitam yang menempel di cermin itu sehingga cahayanya tak menerangi jiwa kita lagi. Jiwa adalah pengambil keputusan dalam diri kita. Fitrah manusia adalah kebebasan untuk memilih. Semua manusia pada dasarnya bebas.

Mereka yang berteriak-teriak menuntut kebebasan sesungguhnya dikuasai oleh hawa nafsunya. Hawa nafsu ini sumbernya hati yang fisik. Mereka ingin dunia. Ingin memuaskan hawa nafsunya. Mereka sesungguhnya sedang mengingkari kebebasannya sendiri yang seharusnya berpihak pada hati nurani. Nur= cahaya. Hati nurani = hati yang hahekatnya cahaya. Allah adalah cahaya di atas cahaya. Maka hati nurani kita hakekatnya merindukan Allah.

  1. 2.     LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transeksual)

Ada salah satu anggota MA 19 yang bertanya soal LGBT. Dia selama ini belajar di bidang psikologi. Orang-orang LGBT dianggap normal jika mengacu pada DSM (Diagnostic Statistic Manual). Ini realita pahit yang perlu diketahui.

LGBT merupakan penyakit hati. Sekali lagi, Psikologi Barat tak mengerti ilmu hati, jadi wajar kalau mereka tak memasukkannya ke DSM. Penyakit hati lebih mendasar karena itu sebab utamanya dari segala bentuk  gangguan psikologis.

Realita pahit lainnya adalah DSM sekarang dianggap sebagai “kitab” psikologi, lalu bagaimana kita sebagai muslim harus bersikap terhadap LGBT?

Orang-orang LGBT pada jaman Nabi Luth, sebagai penguasa kaumnya dan mayoritas. Pengikut Nabi Luth itu orang-orang lemah dan miskin. Nabi Luth dihormati sebagai orang sholeh tapi dilabel sok suci dan “anti kebebasan”. Nabi Luth tak mampu lagi menasehati mereka, lalu mengadu pada Allah. Kejadian itu yang akan terjadi lagi di akhir jaman. Itu sebabnya orang Islam wajib beraliran Psikologi Islam. DSMnya Ihya Ulumuddin. Tidak ada kata untuk berparadigma Psikologi Islam selama masih hidup. Yang berbahaya itu kalau mati masih berparadigma Psikologi Barat.

Andalan kita Allah walau akan diejek oleh mainstream seperti Nabi Luth. Mazhab Psikologi Islam harus dibangun dengan kokoh, niatnya adalah dakwah.

(via muhajirinanshor)

i am SPEECHLESS :)

(Source: kurniawangunadi)

"Kau tahu apa yang menyenangkan saat bertemu anak-anak, dibanding manusia dewasa? Karena anak-anak itu miskin kepura-puraan. Saat pertama bertemu kau akan tahu mereka menyukaimu atau tidak. Dan itu tulus."

Ririh Zuhrina

(via kurniawangunadi)

kurniawangunadi:

Tulisan yang bagus dari teman saya, Tristi. Selamat berkontemplasi :)

Teman-temanku akan dan sudah menikah. Umur teman-temanku ini hampir-hampir sepantaran denganku. Baru-baru ini aku merasa luar biasa paling bocah mengingat fakta itu. Ada semacam iri yang kurasa.

Iri ini bukan iri macam…

(Source: kalengikansarden)